Rabu, 06 April 2011

“ I FALL IN LOVE THE FIRST SIGHT “.


Sudah empat bulan aku melakukan pe_de kate kepada dewi sahabat maya ku . Melalui segala macam cara akhirnya aku mendapatkan nomor HP nya. Seiring dengan waktu, sikapnya mulai melunak dan mulai membuka diri. Selama awal awal bulan kami hanya berhubungan lewat SMS, menelponpun aku belum begitu berani, ada macam – macam ketakutan yang menghantuiku, takut kagok lah, takut tiba tiba gak bisa ngomong, takut di tolak, takut ini, takut itu dan sejuta ketakutan lainnya.
Kejenuhan merayapi ku … aku muak dengan segalah kemenangan akal ku yang hampir saja membunuh ku, walau pedang itu telah terhunus siap memenggal hidup ku juga orang_orang yang ku kasihi, karena sebuah permainan elite_elite politik kotor dengan dalil memihak orang kecil.
Hi … sepi .. gi ngapain .. gi di tempat kerja ,.. ow da ganti nomor ya .. balas ku .. ngak ini nomor buat YM kata mu, sip lah balas ku lagi .. lantas yang nomor kemarin sms ku lagi, ow itu tetap nomor ku, mau hubungi aku pake aja yang itu;  balas mu lagi. Sebait sms dari dewi yang mengkabarkan dirinya juga menggunakan fasilitas YM, betapa gembirannya aku bisa share sambil pe_de_kate hehehehe … senyum ku dalam hati.
Komunikasi yang kami bangun selalu riang dengan canda_canda yang mengalir bagai sungai di pegunungan, sejuk mengaliri seluruh nadi ku dengan sempurna. Setiap senja selalu kun nantikan chating_chating yang menentramkam jiwa, segalah waktu ku selalu kuhabiskan dengan menunggu email_emailnya, bahkan sangat melampaui batas angan ku hingga terbawah ke alam sadarku

Aku selalu mendambakan hidup yang tenang di tempat yang sunyi dengan menulis juga membaca, agar imajinasi ku terasah. Kadang aku mengerjakan sesuatu yang bermanfaat kemudian mengisi waktu luang dengan mendengarkan music dari alam. Dan puncak dari semua kebahagiaan itu adalah hidup di samping Dewi dan membentuk keluarga yang bahagia. Aku ingin cinta yang mengendalikan hidup bukan hidup yang mengendalikan cinta. Aku ingin menyusun hidupku menjadi sebuah kisah cinta yang bahagia, sekali aku mencinta aku harus mendapatkannya.
Saat ini dalam kehidupan kerier ku. Segala sesuatunya menjadi serba tidak jelas, keadaan kantor lagi muram, para pemimpin tidak berani angkat bicara mengenai apa sebenarnya yang dialami oleh Negeri ini, apakah akan berjalan dengan baik_baik saja ataukah akan berakhir fatal akibat chaos politik yang masih melanda walau perhelatan itu sebenarnya telah berakhir dua tahun lalu, tapi puing_puing kehancuran dari perang itu masih membekas di setiap insan yang mendiami negeri ini. Itulah yang mengakibatkan saling sikut, jegal dan juga membunuh karater seseorang yang dianggap musuh terus berlanjut. Dan badai itu pun menghempasku pada titik nadir yang terdalam aku tak mampu melepaskan penatnya hati, walau hanya selonjorkan kaki dari rutinitas yang memuakkan. Tak ada lagi waktu bagi ku untuk tentram, seluruhnya telah tersita oleh persoalan_persoalan yang melibatkanku sebagai kuli birokrasi.
Hari ini Silahturahmi pejabat_pejabat teras ke pihak penyidik lahirkan title mentereng sebagai tersangka .. aih .. sebuah harga yang harus dibayar mahal untuk negeri ini.
Keseharianku yang selalu ceriah masih mampu ku pertahankan di depan orang_orang yang ku kasihi, rekan_rekan kerja ku juga dalam lingkungan ku. Namun dibalik topeng keceriaan itu aku lebih banyak menanggis dengan computer juga modem murahan ku. Sementara sakit jiwa dan raga ini terus mengerogoti ku hingga hilangkan batas sadarku, membuat ku berlari dan hilang dalam kegelapan. Hari ini aku menyatakan resign dari pekerjaanku … aku sudah tidak tahan lagi berada dalam suasana saling mencurigai dan saling menjatuhkan..belum lagi suara suara miring tentangku yang kadang membuat kuping ini panas .. so untuk kebaikan semua ada baiknya saya yang pergi…meski tidak tahu akan ke mana yang ku tahu hanya aku harus pergi…
Clubbing adalah jalan terbaik dan itulah pilihan ku saat ini. Aku mabuk_mabukan hingga tak sadar. Aku terbangun dari tidur, karena merasa sangat sesak dan susah bergerak seolah ada yang sedang menindihku…ternyata seorang perempuan asing yang memiliki paras tidak bisa dikatakan jelek,..sedang tertidur telungkup di atasku yang tidur terlentang, entah sejak kapan ia berada di atasku, yang jelas bajuku dipenuhi muntahannya yang berbau alkohol.
Kudorong tubuhnya pelan-pelan dan membaringkannya di sofa tempatku tadi…sempat terpikir untuk mengambil kesempatan tapi cepat_cepat pikiran nakal itu kutepis .. dan segera memutuskan untuk pulang saja, tanpa pamit dengan yang lain sebab percuma saja mereka lagi pada tidak sadar…dalam perjalanan pulang pemandangan penyapu jalanan, para penjaja sayur, yg sudah beranjak mengais rejeki. hal itu membuatku serasa di tampar bagaimana tidak ada orang yang susah payah mengumpulkan rupiah ..sementara aku menghamburkannya dalam semalam yang jumlahnya bisa saja melebihi hasil kerja mereka dalam sebulan. …keadaan kontras tersebut membuatku berkomitmen dalam hati bahwa ini kali terakhir aku mengunjungi dunia gemerlap  dan itu harus dibayar mahal karena aku terkapar lagi di bangsal pesakitan dengan selang memenuhi tubuh ku. Aku teringat awal kepergian ku saat itu. Sebab di benak ku yang ada hanya melupakan semua rutinitas dan aktifitas yang memuakkan ini. ada ruang hampa di hati dan aku berharap terisi, aku ingin berbagi derita, suatu keinginan yang sangat manusiawi, bahkan keinginan seorang lelaki tegarpun tak kuasa bertahan menanggung sepi, juga badai hidup yang begitu berat menghempasnya betapa dia juga butuh belaian, kelembutan juga kedewasaan dalam menumpahkan segala beban juga rindunya ..
Aku mulai jengah dengan semuanya.. dengan segala rutinitasku, mulai muak, dan jenuh …hidup dalam kepura-pura-an, menampilkan diri seolah_olah tegar. Aku sudah sangat bosan dengan itu, aku sudah capek membohongi diri sendiri, dan orang lain. Untunglah dengan dewi  selama ini aku selalu jujur dan terbuka apa adanya, dan itu yang membuatku sedikit nyaman ketika berkomunikasi dengannya tidak ada kepalsuan yang kusembunyikan dalam diriku. Aku mungkin perlu warna baru dalam hidupku, sebuah warna pelangi bukan warna hitam, putih dan abu abu seperti warna hidupku selama ini.
Aku bersama dua orang teman ku diadili kayak pesakitan, setelah badai yang menghempas Negeri ini dirasa berlalu. Perjuangan, darah dan air mata saat itu seolah_olah tak berharga di mata mereka, yang katanya pemimpin negeri yang bijak; dengan memberi ku sebuah kado istimewa Hukuman disiplin karena tidak memberikan kajian tekhnis kepada pemimpin tertinggi di Negeri ini plus piagam penghargaan kepindahan ku karena dianggap tidak loyal dan membangkang. Aku hanya tertawa getir, beginikah cara seorang pemimpin menghargai bawahannya yang telah mengangkat kepalanya yang pernah tertunduk, dengan dalih penyegaran tapi sebelumnya telah menginjak_injak harga dirinya di depan orang?.
Aku lelah, aku butuh tempat untuk bersandar, mungkin di sebuah sudut hati yang mampu menenangkan jiwa yang tak tenang. Hari ini aku mudah sekali naik pitam,..mudah marah apabila ada sesuatu yang tidak berjalan seperti apa yang kumau. Mungkin karena akibat akumulasi persoalan yang mendera ku, sehingga hawa tubuhku menjadi panas .. dan membuat emosiku tidak stabil dan kadang jadi beringas, dan kadang pula menjadi sangat melankolis, di saat saat tertentu kata-kata yang keluar dari mulutku sangat menyakitkan  hati apabila didengarkan. Aku memang mengalami kelelahan dan kekalahan yang luar biasa, lelah dan kalah lahir dan batin. Keadaan tersebut membuatku benar_benar marah terhadap diri sendiri, yang terlalu bodoh, jujur juga ngak neko_neko.
Aku kembali mengingkari janji ku untuk tidak lagi minum minuman keras, tapi saat itu aku tak mampu melerai perasaan ku. Kembali aku melampiaskan kekesalan ku pada arak  bersama sahabat_sahabat lalu ku . Aihhhh, betapa tentramnya saat itu, canda cabul bahasa, malam hingar bingar musik yang memekakan telinga kurasa tak mampu menyaingi teriakan kegembiraan ku saat itu. Hingga saat sadar ku seluruh pakaian ku telah penuh muntahan ku sendiri, siang itu aku di hajar oleh orang_orang yang ku kasihi yang begitu menyayangi juga peduli pada ku. Tapi aku begitu terlukah dan tidak lagi menginginkan perhatian_perhatian yang bagi ku hanya kepalsuan belaka. Aku mengalami krisis kepercayaan pada setiap orang, membuat ku paranoid. Puncaknya seluruh kekesalan ku, ku tumpahkan pada mu saat sms mu siang itu ku baca, meskipun aku sebenarnya masih mengumpulkan segala kepercayaan juga kebaikan_kebaikan untuk mendapatkan hatimu. Komunikasi kita mulai mendingin, aku pun semakin rapuh namun itu tak lagi membebani langkah ku, aku akan tetap berjuang, sebab hidup bukannya menghindari badai tapi bagaimana melewati badai itu sendiri. Dan itulah yang membuat ku bangkit kembali.
Maafkanlah kalau engkau merasa terzalimi,
Mungkin begitulah caraku untuk menyangangimu…
Dan akhirnya harus kutemui diriku berada pada titik nadir, harus kurelakan apa yang kubangun selama ini menjadi musnah seperti sebuah istana pasir di pantai, ini semacam kehilangan yang keterlaluan … maka betapapun kamu yang menganggap diri sebagai lelaki tegar atas semua peristiwa yang terjadi kau pun punya hak untuk kecewa…
Genap sudah 3 hari aku melakukan moksa… 3 hari tidak berbicara, tidak berhubungan dengan dunia luar, tidak melakukan apapun kecuali membaca buku, sembayang, mandi, makan dan kegiatan rutin lainnya termasuk menanti sms ,telpon, juga email_email mu yang selalu menentramkam hati ku.
Hari selasa 24 Agustus, kembali kita bercanda lewat chating. Dan itu kembali membuat ku bersemangat dalam menjalani kembali hidup ini. Sebenarnya aku tidak punya niat untuk berbaring di luar, aku hanya ingin menentramkan hati yang gundah gulana dengan cara berbaring di luar dan memandangi wajah purnama, membuatku seolah sedang memandang dirinya mu, Seperti bayang-bayang yang tak mau pergi, aku masih terkepung kenangan yang menari-nari di ujung jalan sepi.

aku tidak akan membuat mu tarisak lagi karena aku mencintaimu maka aku akan tidak pernah melupakan janji ku. Sungguh aku ingin belajar bersyukur, tidak lagi memaki-maki keadaan seperti kemarin-kemarin. Harusnya aku bisa belajar banyak dari pengalaman, dari setiap tempat yang kudatangi, dari setiap orang yang kutemui. Karena setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.
Hari ini aku merasa begitu damai sekali…seperti terlahir kembali dan tanpa beban di kepala..aku merasa seperti seorang pria yang memutuskan untuk bercerai setelah sekian lama menjalani pernikahan yang tidak bahagia…ternyata aku tahu sumber ketidak tenanganku selama ini adalah tugas pokok dan fungsi ku kemarin, pekerjaan itu. Dan Tuhan telah member ku jalan yang terbaik bagi ku saat ini. Aku tenang

Awal kelahiran baru seorang lelaki …  

Aku akan mewujudkan sebuah rumah mungil
di kaki bukit dekat sawah
juga bisa memandang laut,
di depannya ada taman kecil
dengan beraneka bunga tropis juga perdu_perdu liar
tempat bertenggernya merpati gunung,
disitulah kekasih ku berdiri
menunggu senja dengan gaun sederhananya
yang berkibar digoda bayu nakal …
aku ingin dia menjadi kembang liar
yang menghiasi taman hatiku,
aku ingin dia menjadi stasiun
juga dermaga tempat ku berlabuh dari kepenatan hidup.
Aku ingin dia menjadi rembulan
saat senja kehidupan datang menitipkan malam pada kelam ..
aku ingin mencintainya
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan hujan pada kemarau
yang menjadikannya semi.
isyarat cinta..
yang hanya melalui tatapan mata tanpa kata….
Seperti bayang-bayang yang tak mau pergi,
aku masih terkepung dalam imajinasi ku
yang menari-nari di ujung jalan sepi…
pada batas sadarku …

Heheheheheheheeheee mellow.com ……
Rote 24 Agustus 2010


Tidak ada komentar: